Book Review: The Law of Moses by Amy Harmon

The Law of Moses by Amy Harmon
Series: Standalone
Release Date: November 27th 2014
Publisher: Createspace
Language: English
Format: eBook
Print Length: 333 pages
Genres: Paranormal, Romance, Contemporary
Target Reader: New Adult

If I tell you right up front, right in the beginning that I lost him, it will be easier for you to bear. You will know it’s coming, and it will hurt. But you’ll be able to prepare.

Someone found him in a laundry basket at the Quick Wash, wrapped in a towel, a few hours old and close to death. They called him Baby Moses when they shared his story on the ten o’clock news – the little baby left in a basket at a dingy Laundromat, born to a crack addict and expected to have all sorts of problems. I imagined the crack baby, Moses, having a giant crack that ran down his body, like he’d been broken at birth. I knew that wasn’t what the term meant, but the image stuck in my mind. Maybe the fact that he was broken drew me to him from the start.

It all happened before I was born, and by the time I met Moses and my mom told me all about him, the story was old news and nobody wanted anything to do with him. People love babies, even sick babies. Even crack babies. But babies grow up to be kids, and kids grow up to be teenagers. Nobody wants a messed up teenager.

And Moses was messed up. Moses was a law unto himself. But he was also strange and exotic and beautiful. To be with him would change my life in ways I could never have imagined. Maybe I should have stayed away. Maybe I should have listened. My mother warned me. Even Moses warned me. But I didn’t stay away.

And so begins a story of pain and promise, of heartache and healing, of life and death. A story of before and after, of new beginnings and never-endings. But most of all…a love story.

add-to-goodreads

Purchase Links: Amazon USB&N • Kobo • iBooks
Paperback: Amazon USBook Depository
Review by Alexa

“Bayi Moses tidak ditemukan oleh putri Pharaoh seperti Moses dalam Kitab Suci. Dia tidak dibesarkan di Istana. Dia tidak punya kakak perempuan yang menjaganya dari balik tumbuhan sungai, memastikan keranjangnya tidak tenggelam di sungai Nil.”

Ini adalah buku pertama Amy Harmon yang kubaca dan kuakui aku suka gaya tulisan dan tema-tema bukunya. Cara dia menggambarkan sesuatu begitu detail dan penuh perasaan. Dia juga selalu memberikan sentuhan unik penuh talenta ditiap bukunya, yang beberapa temanya mungkin sudah pernah diangkat penulis lainnya.

Pertama-tama aku ingin bilang bahwa genre buku ini di GR cukup menyesatkan. Cerita ini slow pace dan nyaris tak terasa chemistrynya di 50% awal buku, lebih terasa seperti buku YA psikologi daripada romance. Tapi di 50 persen sisanya, muncul aura paranormal (sumpah nyaris tidak terdeteksi diawal buku ) dan taburan suspensnya yang seru dan menegangkan. Sisi emosionalnya juga lebih terbangun. Ini yang membuat rating Moses tidak senendang rating David yang menguras emosi sejak halaman pertama.

Moses Wright punya kemampuan spesial. Ini yang membuatnya tidak dimengerti oleh lingkungannya sejak dia kecil. Digambarkan dark, beauty dan punya mata amber yang misterius bak Pangeran Mesir, Moses dan kisah kelahirannya sudah menghebohkan seisi kota. Misteri Moses mulai dibuka perlahan-lahan, makin kuat di setiap chapternya. Dia bisa melihat hantu dan melukiskan kilas balik kehidupan yang digambarkan para hantu di benaknya.

Georgia sudah mengikuti kisah kelahiran fenomenal Moses dari anak haram ibu pecandu narkoba berkulit putih sampai jadi remaja bermasalah yang gosipnya sering melanggar hukum, belum kelakuan anehnya yang menyeramkan. Moses adalah semua yang terlarang di mata Georgia. Tapi sebagai remaja, dia selalu mengikuti kata hatinya, dan hatinya tertarik pada Moses yang pendiam dan misterius.

I knew how to love. I loved you then. I just didn’t know how to show you.

Konsep penulisan buku ini jelas unik. Twist yang dibangun perlahan dari buku adem ayem jadi suspens bergejolak. Kisah ini juga mengupas hubungan cinta yang lebih luas dan dalam dari sekedar hubungannya dengan Georgia. Bromance yang mendalam dari Tag dan Moses, cinta yang terbentuk perlahan antara Moses dan Eli, perjalanan panjang Moses untuk mencintai dan menerima dirinya bukan sebagai pribadi gila yang membuat orang-orang disekelilingnya mati.

Hal menyenangkan dari tulisan Amy Harmon adalah dia tidak menjual air mata. Dia bisa membuat kita tersenyum dari momen-momen yang paling berat dalam hidup. Buku ini juga penuh pesan moral tentang pentingnya mensyukuri kondisi apapun yang kita punya saat ini ( 5 greats) dan memaafkan tanpa syarat untuk bisa menyembuhkan luka batin. Ending buku ini cukup kompleks. Banyak hal yang nampak acak berpadu indah membentuk ending HEA yang super menyentuh perasaan. Buku ini kurekomendasi untuk pecinta buku paranormal psikologi dengan percikan romance.

Overall Rating

4stars

SEXOMETER

1bikini happyreading

Advertisements

One thought on “Book Review: The Law of Moses by Amy Harmon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s