Book Review: A World Without Princes by Soman Chainani

A World Without Princes by Soman Chainani
Series: The School for Good and Evil #2
Release Date: April 15th 2014 by HarperCollins
Language: English
Print Length: 448 pages
Genres: Fantasy, Magic, Adventure, Romance
Target Reader: Young Adult/Middle Grade

Ebook: Amazon US • B&N • Kobo • iBooks
Int. Paperback: Paperback • Book Depository
Indonesia: Periplus (Paperback/Hardcover)

In the New York Times bestselling sequel to Soman Chainani’s debut, The School for Good and Evil, Sophie and Agatha are back in Gavaldon, living out their Happily Ever After, but life isn’t quite the fairy tale they expected. When Agatha wishes she’d chosen a different Happy Ending, she accidentally reopens the gates to the School for Good and Evil, and the girls find that the world they knew has changed.

Witches and princesses reside at the School for Girls, where they’ve been inspired to live a life without princes, while Tedros and the boys are camping in Evil’s old towers. A war is brewing between the schools, but can Agatha and Sophie restore the peace? Can Sophie stay good with Tedros on the hunt? And whose heart does Agatha’s belong to—her best friend or her prince?

add-to-goodreads


REVIEW BY ALEXA

“Once upon a time, all I needed was a friend to be happy. Then I thought I needed more. It’s the problem with fairy tales. From far away, they seem so perfect. But up close, they’re just as complicated as real life.” ~Agatha

Fiuhh.. Akhirnya lolos juga dari ancaman DNF setelah on off baca buku ini selama 2 minggu dengan diselingi baca hampir 5 buku lainnya. Berbeda dengan buku pertamanya, membaca A World Without Princes jelas jadi perjalanan penuh cobaan untukku. Sebelumnya, aku jatuh cinta pada fairy tale baru yang unik ini karena berani mengangkat tema yang berbeda dari kisah-kisah klise yang kita tahu semenjak kita kecil. Soman juga memberikan aura dark yang dibalut dalam kemasan cute, penuh humor level tinggi dan cara bercerita yang menawan.

Di buku ke-2 ini kita masih mendapatkan aura intens yang sama, detail-detail dunia baru yang diciptakan Soman juga masih mengesankan. Interaksi antar karakter complicated dan penuh penggalian emosi. Tapi ada beberapa poin yang membuat otakku harus berjuang keras untuk bisa menerima ide-ide dalam buku ini.

  • Karakter yang tidak konsisten. Aku kecewa berat dengan Agatha yang jelas super out of character di buku ini. Di buku 1 dia begitu misterius, cerdas, penuh sarkastik dan punya keyakinan. Tapi kemudian dia tumbuh dan mulai mellow menggalau, curigaan, plin plan dan jauh dari kata cerdas. Sophie si antiheroine untungnya masih konsisten dengan caper, narsis, egois tapi super loveable dan kita bisa memahami alasan dibalik semua tindakannya.Tedros yang dibuku 1 agak dangkal dan tipikal di sini mulai dikorek masa lalunya, untuk menjelaskan perubahan sifatnya yang ekstrim.
  • Alur melelahkan yang bikin depresi. Buku ini terbagi menjadi 2 bagian, di desa Agatha dan Sophie pasca ending “anti mainstream” mereka dan kembalinya ke sekolah good and evil karena Agatha membuat permohonan yang berbeda. 58 % awal buku ini membuatku frustasi dengan alurnya yang lambat, penuh narasi kegalauan dan detail tidak penting yang terus di ulang-ulang. 42 % lainnya kuisi dengan frustasi karena penyebab yang lain.
  • Plot dan konflik super megadrama. Begitu banyak detail yang harus ditelan dan tema yang tidak terfokus. Jangan lupakan intrik berdarah penuh rahasia, keraguan dan pengkhianatan. Terombang ambing diantara dua cinta yang berbeda jenis, rumit dan tidak jelas maunya apa.
  • Ide yang over ekstrim. Ide untuk memisahkan sekolah “Good dan Evil” itu sangat jenius, begitu juga dengan sekolah “Girls dan Boys”. Pesan moral tentang kita tidak perlu mengubah diri demi mendapatkan perhatian lawan jenis atau bersikap mandiri dan menyelamatkan diri sendiri itu jelas bagus. Tapi saat Soman mulai memasukan idenya, scene yang membingungkan dan pesan-pesan terselubung yang tidak jelas maksudnya ke arah mana (swap gender dan triangle love super magical) cerita ini jadi susah kucerna sampai ending HEAnya yang “maksa” banget.

“Because we grow up. When you’re young, you think your best friend is everything. But once you find real love . . . it changes. Your friendship can never be the same after that. Because no matter how much you try to keep both, your loyalty can only lie with one.” (Tedros)

Kuharap buku ke-3 akan memberikan happy ending yang lebih masuk akal daripada keseluruhan isi buku ke-2 ini. Cerita ini wajib dibaca dengan dampingan orang tua karena ada beberapa issue yang mungkin bisa diterjemahkan secara harafiah oleh pembaca belia dan sulit dipahami.

OVERALL RATING

2starshappyreading

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s