Book Review: The Last Ever After by Soman Chainani

The Last Ever After by Soman Chainani
Series: The School for Good and Evil #3
Release Date: July 21st 2015 by HarperCollins
Language: English
Print Length: 704 pages
Genres: Fantasy, Magic, Adventure, Romance
Target Reader: Young Adult/Middle Grade

Ebook: Amazon US • B&N • Kobo • iBooks
Int. Paperback: Amazon US • Book Depository
Indonesia: Periplus (Paperback/Hardcover)

In the epic conclusion to Soman Chainani’s New York Times bestselling series, The School for Good and Evil, everything old is new again as Sophie and Agatha fight the past as well as the present to find the perfect end to their story.

As A World Without Princes closed, the end was written and former best friends Sophie and Agatha went their separate ways. Agatha was whisked back to Gavaldon with Tedros and Sophie stayed behind with the beautiful young School Master.

But as they settle into their new lives, their story begs to be re-written, and this time, theirs isn’t the only one. With the girls apart, Evil has taken over and the villains of the past have come back to change their tales and turn the world of Good and Evil upside down.

Readers around the world are eagerly awaiting the third book in The School for Good and Evil series, The Last Ever After. This extraordinary conclusion delivers more action, adventure, laughter, romance and fairy tale twists and turns than you could ever dream of!

add-to-goodreads


REVIEW BY ALEXA

Apa asyiknya jadi penjahat kalau tidak ada pahlawan kebaikan yang akan mengimbangi sepak terjangmu? Itu yang dirasakan murid-murid sekolah Good and Evil, sekarang sudah berubah menjadi Old Evil dan New Evil. Semua pangeran dan putri dari sisi Good diwajibkan untuk belajar tentang seni kejahatan dan bersiap untuk melayani School Master (yang kembali menjadi ABG keren, bayangkan Jack Frost!!!) dan calon ratunya, Sophie.

Setelah jatuh cinta pada buku pertamanya dan ngenes setengah mati pada buku keduanya, buku terakhir ini menawarkan banyak penghiburan dan juga kejutan sejak chapter pertamanya. Misalnya tentang penolakan Sophie terhadap lamaran Rafal tapi juga perjuangan gigihnya demi mendapatkan cinta. Atau kehidupan Agatha dan Tedros setelah Ever After ternyata tidak bisa dinilai sebagai happy ending.

Porsi besar perjalanan penuh aksi pertualangan dan tentu saja scene-scene gelap yang lebih berdarah-darah. Buku terakhir ini juga lebih lucu, punya alur berbelit dan dramatik bak telenovela. Hubungan dan banter Tedros dan Agatha memang jauh dari mulus dan penuh pertengkaran sarkastik.Tapi scene-scene mereka berdua jauh dari membosankan dan scene romantis sederhana mereka jelas melelehkan organ dalam sampai akhir.

Karakter utama dan beberapa karakter pendamping jelas digali lebih mendalam kepribadiannya. Tedros yang tampak dangkal dan selalu heroik ternyata bisa tampil rapuh dan menggemaskan. Sophie yang makin nampak Evil dengan semakin keras usahanya untuk tampil menjadi Good. Aric yang semakin kejam. Transformasi Hort dengan perut berpetak dan sikap cuek-cuek butuhnya yang pasti menggetarkan.

Buku ini juga memunculkan kembali 13 hero/heroine fairytale yang sudah kita kenal. Cinderella yang judes, Pinocchio yang kebangetan jujurnya, si kembar Hansel Gretel yang berantem tiap saat biar sudah uzur, Putri Tidur dan Jack Si Kacang yang akan menikah, Peter Pan yang menyesal sudah jadi dewasa dan Merlin yang super kocak dengan topi ajaibnya.

Kisah terakhir ini juga menawarkan storyline fairytale dengan konflik berlapis yang epic dan twist tiada akhir yang akan membuat matamu melekat pada tiap halamannya sampai akhir. Pesan dalam novel ini agak bias dan mungkin sulit untuk dipahami para pembaca muda, karena itu perlu bimbingan orang tua sehingga tidak disalah artikan.

OVERALL RATING

4.5stars
happyreading

Advertisements

10 thoughts on “Book Review: The Last Ever After by Soman Chainani

  1. Ini ini ini…. Selalu bikin penasaraaannn…
    Tp blm siap mw bca wkkwk…
    Cece tu ye klo review bikin gemes pengen icip, tp apadaya kadang hati ini t sanggup hihihi…
    Ini trilogy aja kn??

    Like

  2. Sama kayak si undes. Gara2 baca review seri ini, aku jg sampai ikut nyemplung pdhl jarang bgt mau baca YA.
    Tp sampai skrg blm kelar2 buku terakhir ini, tiap mau baca mundur krn tebel halamannya wkwkwk

    Like

  3. Wah udah pernah baca yang pertama dan ke dua, tpi blum baca yang ke tiga. Seru bgt ceritanya, apalagi di buku pertama saat punggung Beatrix patah dan anak – anak Ever berubah jadi jelek. Dan juga saat Agatha mencoba menemui sang guru tpi malah di kejar oleh naga.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s