Book Review: A Man Called Ove by Fredrik Backman

A Man Called Ove by Fredrik Backman
Series: Standalone
Published: January 2016 by Noura Books
Language: Terjemahan (by Ingrid Nimpoeno )
Print Length: 440 pages
Genres: Fiction, Contemporary, Humor
Target Reader: New Adult

Sebelum terlibat lebih jauh dengannya, biar kuberi tahu. Lelaki bernama Ove ini mungkin bukan tipemu.

Ove bukan tipe lelaki yang menuliskan puisi atau lagu cinta saat kencan pertama. Dia juga bukan tetangga yang akan menyambutmu di depan pagar sambil tersenyum hangat. Dia lelaki antisosial dan tidak mudah percaya kepada siapa pun.

Seumur hidup, yang dipercayainya hanya Sonja yang cantik, mencintai buku-buku, dan menyukai kejujuran Ove. Orang melihat Ove sebagai lelaki hitam-putih, sedangkan Sonja penuh warna.

Tak pernah ada yang menanyakan kehidupan Ove sebelum bertemu Sonja. Namun bila ada, dia akan menjawab bahwa dia tidak hidup. Sebab, di dunia ini yang bisa dicintainya hanya tiga hal: kebenaran, mobil Saab, dan Sonja.

Lalu … masih inginkah kau mengenal lelaki bernama Ove ini?

add-to-goodreads


REVIEW BY ALEXA

“Aku hanya ingin mati.”

Hidup tak pernah jadi hal mudah untuk Ove setelah kematian istrinya. Tapi mencoba untuk mati menyusulnya ternyata jauh lebih susah lagi. Semua orang seperti menyabotase semua rencana bunuh dirinya (dan percayalah, dia sudah mencoba berbagai alternatif). Apalah kamu penasaran tentang hasil akhir percobaan bunuh diri kesekian Ove? #Ngikik setan

“Aku merasakan kehilangan yang begitu besar. Begitu kehilangan, seakan jantungku berdetak di luar tubuh.”

Ove adalah opa Swedia yang cuma perduli pada istrinya Sonja, mobil Saabnya, dan pandangan idealisnya yang super lempeng. Di masa tuanya dia menjadi pria skeptis, pemberang, anti sosial, perhitungan dan suka berdebat hampir di setiap situasi. Super antik sampai terkadang orang hampir curiga kalau dia tak punya hati. Tapi apakah Ove muda juga seperti itu? Karakter Ove mengingatkanku pada Carl Fredricksen dari film UP. Storyline kisah ini adalah versi realistis dan lucu dari prolog film tersebut seandainya Carl tidak memasang balon-balon di rumahnya. Cara Sonja yang gigih mencintai Ove juga membuatku paham kenapa pria ini tak bisa hidup tanpa pasangan jiwanya.

Dengan alurnya yang maju mundur kita akan di bawa ke scene-scene acak di masa lalu Ove semenjak dia kecil, pertemuannya dengan Sonja, dan transformasinya menjadi Ove yang sekarang. Diceritakan dengan gaya bahasa lugas dan cenderung sarkastik aku betul-betul terbius pada kekuatan emosi yang di bangkitkan buku ini. Aku bisa mempercayai ikatan kuat cinta Ove dan Sonja, memahami kepedihannya dari kejadian-kejadian yang mengeraskan hatinya, merasakan kemarahannya dan tentu saja ngikik tanpa henti dengan segala kelakuan antiknya.

Buku ini benar-benar tak terduga. Walaupun bukan genre romance tapi kisah cinta sederhana yang di gambarkan di sini benar-benar bisa dipercaya, menyentuh dan menghangatkan hatiku. Dipenuhi dengan karakter-karakter utama dan pendamping yang gampang cintai, unik, dan kocak, buku ini akan mengikat matamu sejak chapter pertama. Kisah ini berhasil membuatku tertawa pada saat aku seharusnya menangis dan sebaliknya. Review ini hanya bisa menggambarkan sedikit dari apa yang kurasakan setelah membaca buku ini.

“Lelaki terbaik lahir dari kesalahan mereka sendiri, dan mereka sering kali menjadi lebih baik setelahnya, melebihi apa yang bisa mereka capai seandainya tidak pernah melakukan kesalahan. “

OVERALL RATING

5stars happyreading

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s