Book Review: The Girl on the Train by Paula Hawkins

The Girl on the Train by Paula Hawkins
Series: Standalone
Published: September 4th 2015 by Noura Books
Language: Terjemahan (Indonesian)
Print Length: 440 pages
Genres: Fiction, Mystery, Thriller
Target Reader: Adult

Rachel menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi. Setiap hari dia terguncang-guncang di dalamnya, melintasi sederetan rumah-rumah di pinggiran kota yang nyaman, kemudian berhenti di perlintasan yang memungkinkannya melihat sepasangan suami istri menikmati sarapan mereka di teras setiap harinya. Dia bahkan mulai merasa seolah-olah mengenal mereka secara pribadi. “Jess dan Jason,” begitu dia menyebut mereka. Kehidupan mereka-seperti yang dilihatnya-begitu sempurna. Tak jauh berbeda dengan kehidupannya sendiri yang baru saja hilang.

Namun kemudian, dia menyaksikan sesuatu yang mengejutkan. Hanya semenit sebelum kereta mulai bergerak, tapi itu pun sudah cukup. Kini segalanya berubah. Tak mampu merahasiakannya, Rachel melaporkan yang dia lihat kepada polisi dan menjadi terlibat sepenuhnya dengan kejadian-kejadian selanjutnya, juga dengan semua orang yang terkait

add-to-goodreads


REVIEW BY ALEXA

Buku ini menjadi begitu populer di sosial media, semua teman memajang fotonya dan memujinya sampai berbusa-busa. Padahal genre buku ini, jelas bukan buku kelas ringan untuk sejuta umat yang bisa dibaca santai. Karena itulah aku jadi penasaran banget buat membuktikan sebagus apa sih buku yang menghebohkan ini.

“Aku tidak pernah mencemburui kebahagiaannya, aku hanya berharap dia bisa berbahagia bersamaku.”

Berjuang mengatasi frustasi pasca perceraiannya, Rachel menghidupi hari demi hari tanpa harapan dan motivasi. Dia bergantung pada alkohol untuk melarikan diri dari sakit hatinya. Di awal narasi buku ini, aku merasa karakter Rachel begitu penuh kegalauan, lemah, ngenes dan tidak menarik. Tapi ada hal unik dari cara Paula bercerita yang membuatku tak bisa meletakan buku ini. Cara Paula memberikan informasi selapis demi selapis di tiap chapter-chapternya membuatku merasakan sensasi berburu harta karus dimana setiap fakta, petunjuk, arah penyelidikan harus kucari, kucermati dan kupilah dari kata-kata narasi detail keseharian.

Paula juga bermain dengan pikiran kita, meletakan petunjuk kecil di sana sini dan memaksa kita untuk terus menebak di sepanjang buku. Tiap chapter adalah perjalanan panjang berliku penuh kejutan. Buku ini beralur maju mundur dengan bantuan tanggal yang akan sedikit menyulitkan pecinta speed reader, karena jujur kau harus menaruh konsentrasi penuh untuk mengikuti ritme buku ini.

Di ceritakan dalam POV 3 heroine utama dan hero-hero figuran, kita akan terombang ambing menebak dan mengejar siapa villain sesungguhnya di buku ini. Kisah ini akan menjadi cobaan besar untuk pembaca yang tak menyukai narasi dominan dan punya ritme yang cukup lambat. Kemudian kalau kau biasa membaca buku thriller dan suspens kau pasti bisa menebak siapa villain utama dibalik semuanya. Ending buku ini memuaskan dan menegangkan, walau aku jadi ingat salah satu film lama yang dibintangi Sharon Stone. Tidak sama persis tapi punya aura dan pesan yang serupa.

Buku thriller yang mengesankan dan aku merekomendasikan kepada semua teman yang menyukai genre ini. Twist psikologi novel ini akan membuatmu kau menikmati novel dengan para grey karakter yang terasa nyata dan betul-betul ada di sekeliling kita. Karena di dunia ini semua manusia punya potensi dan dorongan untuk melakukan kejahatan di dalam diri, dan semua kembali kepada kita akan menyambutnya atau tidak.

Aku tidak pernah mengerti betapa orang bisa dengan entengnya mengabaikan kerusakan yang mereka timbulkan gara-gara mengikuti kata hati mereka. Siapa bilang mengikuti kata hatimu adalah sesesutu yang baik? Itu egoisme murni, egoisme tertinggi.

VIEW THE MOVIE TRAILER HERE (October 7th 2016):

OVERALL RATING

4starshappyreading